Mencegah Kebahagiaan Berlebihan Di dalam "Rulin Waishi" digambarkan seorang sarjana miskin bernama Fan Jin yang sering gagal dalam ujian, namun tiba-tiba mengetahui dirinya lulus sebagai juren, sehingga sangat gembira hingga mengalami kejang-kejang. Cerita ini memiliki dasar ilmiah: ketika emosi bahagia mencapai puncaknya, maka dapat berubah menjadi kesedihan—hal ini dikenal secara umum sebagai "kebahagiaan berlebihan menyebabkan kesedihan". Selain itu, kasus medis ini juga menunjukkan bahwa emosi "senang" dapat dikendalikan oleh emosi "sedih". Oleh karena itu, saat menghadapi hal-hal yang sangat menyenangkan, seseorang harus mampu mengatur emosinya agar tetap dalam keseimbangan mental normal. Menggunakan emosi sedih untuk menyeimbangkan kegembiraan adalah metode pengendalian emosi yang didasarkan pada prinsip "pertentangan elemen lima" dalam Huangdi Neijing. Penerapannya harus fleksibel dan tidak boleh kaku; harus disesuaikan dengan situasi nyata menggunakan cara yang praktis. Ada catatan medis lain yang mencatat contoh "takut mengalahkan senang": Seorang pasien yang terlalu gembira mengalami penyakit tertawa tanpa henti. Seorang dokter bernama Zhuang memeriksa nadinya, lalu spontan berseru: "Tidak baik!" Setelah itu, ia berpura-pura pergi mengambil obat. Pasien menunggu beberapa hari tanpa melihat dokter kembali, merasa putus asa dan menangis terus-menerus, bahkan mulai menulis surat wasiat kepada kerabatnya. Ketika Dokter Zhuang mendengar hal ini, ia menganggap bahwa kondisi pasien sudah mulai pulih, lalu datang menenangkannya. Ternyata, tak lama kemudian pasien benar-benar sembuh. Ini membuktikan bahwa pengendalian emosi dengan pendekatan emosi yang saling mengalahkan dapat lebih efektif daripada pengobatan obat atau akupunktur. Menyesuaikan emosi gembira yang berlebihan dengan metode "mengalahkan emosi dengan emosi" memang merupakan salah satu cara yang layak dipertimbangkan. Namun, jika seseorang mampu meningkatkan pembinaan jiwa, mengendalikan emosinya setiap saat secara sadar, menjaga agar tujuh emosi selalu dalam keadaan tenang dan harmonis, maka ini merupakan pendekatan fundamental untuk menahan emosi gembira. Dalam "Huainanzi" tertulis: "Jiwa yang jernih dan pikiran yang tenang, semua sendi akan damai—ini adalah inti dari perawatan jiwa." Manusia memiliki akal budi; jika selalu berusaha meningkatkan pembinaan kesadaran, melihat segala sesuatu dari sudut pandang dialektika, mampu memahami diri sendiri secara tepat, menilai diri secara realistis, tidak terlalu tinggi menghargai diri sendiri, tidak sombong, selalu mengingat kekurangan dan kelemahan diri, rendah hati, teliti dalam diri sendiri, serta secara sadar mengatur pikiran dan perilaku, tidak terbawa emosi oleh satu kejadian saja, dan tetap tidak puas meskipun berhasil atau mendapat penghargaan, maka seseorang dapat benar-benar mengendalikan emosinya secara sadar dan bertujuan, menjadi tuan atas emosi negatif, tidak tergantung pada emosi buruk, selalu menjaga suasana hati yang tenang dan gembira—ini adalah metode utama untuk mengendalikan emosi gembira. Yang terbaik adalah metode ketenangan, yaitu selalu menyimpan kata "tenang" dalam pikiran, tanpa sedikit pun pikiran kotor, sehingga bahkan masalah besar pun seolah tidak ada di kepala. Seperti yang dikatakan dalam "Neijing": "Ketika pikiran tenang, tubuh akan terlindungi, meski ada angin ganas atau racun berat, tidak akan bisa merusak." Artinya, jika pikiran tenang tanpa kegelisahan, energi vital akan terkumpul dan stabil, sehingga meski ada faktor patogen kuat, tubuh tetap tidak mudah terserang. Jika seseorang dapat mencapai kondisi seperti yang dijelaskan dalam "Suwen·Shanggu Yuanyuan": "Hati tenang dan sedikit keinginan, pikiran tenang tanpa takut, tubuh aktif tanpa lelah, energi mengalir lancar, setiap keinginan terpenuhi, semua orang mendapatkan apa yang diharapkan," maka dapat hidup sampai usia seratus tahun tanpa kehilangan fungsi gerak. Hati yang terang dan jujur, bebas dari keinginan berlebihan, akan membuat jiwa tetap terjaga, dan energi asli akan terpelihara. Meskipun mencapai tingkat ini sulit, namun dengan memulai dari metode "mengalahkan emosi dengan emosi", lalu dilanjutkan dengan kendali diri, seseorang dapat secara bertahap mencapai kondisi perawatan jiwa yang tenang.
|