Baru-baru ini, Dr. Marta Morris dari Pusat Medis Universitas Rush di Amerika Serikat menemukan melalui penelitian bahwa asupan asam folat yang berlebihan dapat menyebabkan gejala demensia pada lansia. Temuan ini memicu perdebatan lebih intensif di Eropa tentang apakah asam folat harus ditambahkan ke makanan. Asam folat adalah zat nutrisi penting yang termasuk dalam vitamin B, sangat penting bagi pembentukan dan fungsi sel-sel sehat. Selama bertahun-tahun, para ahli merekomendasikan agar asupan harian asam folat tetap pada 400 mikrogram, termasuk asupan dari makanan biasa seperti jeruk, bayam, stroberi, brokoli, serta dari suplemen seperti vitamin kompleks. Menjaga asupan asam folat yang cukup sangat penting bagi ibu hamil karena asam folat merupakan zat nutrisi yang diperlukan untuk perkembangan tabung saraf embrio awal. Untuk mencegah cacat perkembangan embrio, sejak tahun 1998, tepung dan sereal di pasar Amerika Serikat telah diperkaya dengan asam folat guna memastikan orang-orang, terutama ibu hamil, mendapatkan asupan yang cukup. Asam folat menyebabkan penurunan daya ingat pada lansia Penelitian ini melibatkan 3.700 orang lansia berusia di atas 65 tahun, yang dibagi berdasarkan asupan asam folat. Hasilnya menunjukkan bahwa lansia yang mengonsumsi asam folat lebih banyak mengalami penurunan daya ingat yang lebih cepat. Penelitian menemukan bahwa jika lansia mengonsumsi asam folat lebih dari 700 mikrogram per hari, kecepatan penuaan dan kehilangan ingatan mereka menjadi dua kali lipat dibandingkan kelompok lain dalam periode enam tahun. Bahkan lansia yang hanya mengonsumsi 400 mikrogram asam folat per hari pun lebih cepat kehilangan ingatan dibandingkan mereka yang mengonsumsi lebih sedikit. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal "Archives of Neurology" Amerika Serikat. Seperti vitamin B lainnya—B12 dan B6—asam folat dapat menurunkan kadar homosistein. Homosistein adalah produk metabolisme berbahaya yang jika menumpuk berlebihan dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke. Dr. Morris mengusulkan bahwa gejala demensia ini mungkin disebabkan oleh defisiensi vitamin B12. Gejala klinis defisiensi B12 biasanya berupa anemia, dan asam folat justru digunakan untuk mengobati anemia. Akibatnya, meskipun anemia teratasi, fakta bahwa tubuh kekurangan B12 tersembunyi. Defisiensi B12 dapat menyebabkan kerusakan saraf dan penurunan daya ingat. Jika asumsi ini benar, maka asam folat bukanlah penyebab utama demensia, melainkan defisiensi B12 yang sebenarnya menjadi penyebabnya. Penelitian menemukan bahwa lansia berusia 80 tahun yang mengonsumsi B12 sekitar 20 mikrogram per hari memiliki kecepatan penuaan 25% lebih lambat dibandingkan rekan sebaya yang mengonsumsi hanya 2,4 mikrogram per hari. Lansia Harus Hati-Hati Mengonsumsi Asam Folat Karena alasan ini, Inggris belum menambahkan asam folat ke dalam tepung, demi mencegah penambahan asam folat yang bisa menyembunyikan defisiensi B12 pada lansia, sehingga menghambat diagnosis dan pengobatan. Meskipun temuan ini belum cukup menjadi panduan diet bagi lansia, setidaknya saat ini lansia harus lebih waspada terhadap masalah asam folat. Di samping itu, orang Amerika memiliki kebiasaan mengonsumsi vitamin kompleks. Para peneliti khawatir bahwa asupan asam folat yang mereka konsumsi jauh melebihi kebutuhan tubuh. Mereka menyarankan agar lansia yang mengonsumsi suplemen vitamin memperhatikan agar kandungan asam folat tidak terlalu tinggi.
|