Memasak dengan Cara yang Tepat Ini karena memasak yang tepat dapat membuat makanan menjadi berwarna, beraroma, dan bervariasi rasa, tidak hanya meningkatkan selera makan tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan. Misalnya, saat menggoreng sayuran, sebaiknya menggunakan api besar dan cepat, hindari merebus terlalu lama, serta tutup panci dengan rapat untuk mencegah vitamin yang larut dalam air hilang bersama uap air, juga mencegah vitamin C yang mudah rusak karena oksidasi dalam kondisi panas mendapatkan pasokan oksigen yang cukup sehingga mempercepat kerusakan. Saat menggoreng sayuran, tambahkan sedikit cuka, baik untuk menambah rasa maupun melindungi vitamin C agar tidak rusak terlalu banyak. Ini karena vitamin C merupakan zat pereduksi, stabil dalam lingkungan asam, namun mudah teroksidasi menjadi asam diketogulonat dalam lingkungan netral atau basa saat dipanaskan, penambahan cuka dapat memperlambat proses oksidasi ini. Dalam berbagai metode memasak, paling sedikit merusak nutrisi adalah kukus, diikuti oleh goreng, kemudian panggang, dan terakhir adalah rebus. Dalam semua metode tersebut, sebaiknya dilakukan dengan suhu tinggi dalam waktu singkat. Secara umum, penting untuk mengatur kekuatan api saat memasak secara tepat. Dalam hal makanan pokok, jangan menambahkan alkali saat merebus nasi, bubur, atau kacang-kacangan, karena alkali mudah mempercepat kerusakan vitamin C dan vitamin B. Ilmu gizi TCM juga menekankan pentingnya menyeimbangkan yin dan yang, serta dingin dan panas dalam proses pembuatan makanan; untuk makanan lansia disarankan hangat, lunak, dan dilarang makanan yang lengket keras, mentah, atau dingin. Yang dimaksud "menyeimbangkan yin dan yang" dalam pembuatan makanan adalah menambahkan sayuran hijau, batang bayam muda, akar sawi putih, batang bambu muda segar, jus buah segar, serta berbagai jenis buah-buahan manis dan lembut ke dalam makanan yang bersifat panas (yang), agar menetralkan atau melunakkan sifat makanan panas yang terlalu pedas; sedangkan pada makanan yang bersifat dingin (yin), ditambahkan bumbu pedas seperti lada, lada hitam, adas, jahe kering, kayu manis, untuk menyeimbangkan atau menekan sifat makanan yang terlalu berminyak dan kental. Yang dimaksud "menyeimbangkan dingin dan panas" dalam pembuatan makanan adalah orang dengan tubuh cenderung dingin sebaiknya menambahkan lebih banyak bumbu seperti jahe, lada, bawang bombai, bawang putih saat memasak; sementara orang dengan tubuh cenderung panas sebaiknya menghindari bumbu pedas dan kering, serta harus memperhatikan pembuatan makanan yang ringan dan dingin seperti sayuran, buah-buahan, dan berbagai jenis buah-buahan. Lansia karena lambung dan usus yang lemah, perlu lebih berhati-hati saat memasak. Dalam *Shou Qin Yang Lao Xin Shu* disebutkan: “Makanan lansia sebaiknya hangat, lunak, hindari makanan yang lengket keras atau mentah dingin.” Makanan yang lengket keras sulit dicerna, daging yang tidak matang dan keras lebih mudah merusak lambung, orang tua dengan lambung yang lemah sering kali sakit karena hal ini. Oleh karena itu, saat memasak nasi, makanan, ikan, daging, buah, dan sayuran, semuanya harus dimasak hingga lunak baru boleh dikonsumsi. Selain itu, makanan sebaiknya dibuat tidak terlalu asin, ini juga merupakan prinsip penting dalam memasak. Garam adalah bahan penting dalam kehidupan sehari-hari, fungsinya bagi tubuh antara lain sebagai penambah rasa dan menyediakan natrium dan klorin yang diperlukan untuk menjaga fungsi metabolisme fisiologis normal. Namun, garam tidak boleh dikonsumsi berlebihan; banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi garam berlebihan akan meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke bahkan kanker. Secara umum, jumlah garam yang dikonsumsi dari makanan per orang per hari tidak boleh melebihi 10 gram. Namun, ada juga situasi khusus, misalnya di musim panas, karena keringat yang banyak, tubuh kehilangan garam secara berlebihan, maka perlu segera mengganti garam yang hilang.
|