Lima "Saudara Penguat Tulang" Tak Boleh Kurang Dalam tubuh anak, selain kalsium, unsur-unsur seperti magnesium, mangan, seng, dan tembaga juga berperan penting dalam perkembangan tulang, yang biasa disebut sebagai "Lima Saudara Penguat Tulang". Di antara lima unsur ini, kalsium merupakan yang paling penting. Karena kalsium sudah dikenal luas dan banyak digunakan, kali ini hanya akan dibahas fungsi fisiologis dan cara suplementasi empat unsur lainnya. Seng: berbagai eksperimen hewan dan observasi menunjukkan bahwa seng dapat merangsang proliferasi dan aktivitas sel tulang, serta mempercepat kalsifikasi sel tulang baru. Anak-anak yang kekurangan seng tidak hanya mengalami gangguan perkembangan intelektual dan psikologis, tetapi juga pertumbuhan tulang yang lambat. Kebutuhan seng anak-anak sekitar 0,3–0,6 mg per kg berat badan per hari.* Daging sapi, domba, dan domba mengandung seng 20–60 mikrogram per gram, sedangkan ikan dan produk laut lainnya mengandung lebih dari 15 mikrogram per gram. Susu dan produk susu mengandung lebih sedikit seng. Oleh karena itu, bayi yang mengonsumsi susu sebagai makanan utama harus menambahkan makanan pendamping yang kaya seng. Tembaga: para ahli mengamati bahwa hewan yang diberi pakan rendah tembaga dalam waktu lama sering menunjukkan gejala tulang kortikal tipis, penurunan jaringan tulang spons, pembesaran epifisis, menyebabkan osteoporosis umum, dan mudah mengalami deformasi atau patah tulang akibat gaya eksternal. Selain itu, tembaga juga memengaruhi sintesis fosfolipid tulang, sehingga menghambat pembentukan tulang baru. Kebutuhan tembaga manusia berkaitan dengan usia, anak-anak membutuhkan sekitar 1 mg per hari. Makanan seperti kacang-kacangan, produk laut, hati hewan, gandum, dan kacang-kacangan kering mengandung tembaga yang cukup tinggi, sehingga sebaiknya dikonsumsi secara rutin. Mangan: mangan merupakan faktor pendukung penting dalam pembentukan kartilago. Jika kekurangan mangan, akan terjadi gangguan sintesis zat yang disebut kondroitin sulfat, sehingga menghambat pertumbuhan kartilago, menyebabkan perubahan struktur dan komposisi kartilago, akhirnya menyebabkan kelainan bentuk tulang. Defisiensi mangan juga dapat mengganggu regulasi kalsium tulang, menyebabkan kalsifikasi tulang baru yang tidak memadai, sehingga menyebabkan osteoporosis. Anak-anak membutuhkan mangan 0,5–1,5 mg per hari, anak usia sekolah 1,5–3 mg per hari. Makanan hewani mengandung mangan sedikit, namun daya serapnya tinggi; makanan nabati mengandung mangan lebih banyak, namun daya serapnya rendah. Oleh karena itu, selama tidak memilih-milih makanan, asupan mangan akan cukup. Magnesium: magnesium berperan dalam pengaturan tidak langsung pertumbuhan tulang. Misalnya, dengan memengaruhi sintesis dan sekresi hormon paratiroid, mengatur pergerakan kalsium di dalam dan luar tulang, sehingga memengaruhi metabolisme jaringan tulang. Kekurangan magnesium paling sering ditandai dengan penuaan tulang dini, osteoporosis, dan kalsifikasi jaringan lunak. Oleh karena itu, para ahli menekankan bahwa hanya mengonsumsi kalsium saja tidak cukup, harus juga mencukupi asupan magnesium. Sayuran hijau, buah-buahan, tomat, alga laut, kacang-kacangan, gandum, jagung, dan kacang-kacangan kaya akan magnesium, dan dapat dipilih sebagai sumber.
|