Dalam masyarakat modern, masalah tidur semakin banyak diperhatikan. Anda merasa selalu kurang tidur, padahal bahkan setelah tidur cukup pun masih merasa tidur tidak nyenyak. Kate Fox dari Pusat Studi Masalah Sosial Universitas Oxford berpendapat bahwa perasaan kurang tidur pada orang banyak disebabkan oleh faktor psikologis. Menurut laporan media asing yang dikutip oleh "Jendela Dunia", Kate Fox sendiri hanya butuh tidur siang 1 hingga 1,5 jam untuk merasa segar kembali, dan dalam sebagian besar malam, ia hanya tidur sekitar 5 jam saja. Bagi sebagian besar orang, kurang tidur semalam berarti keesokan harinya merasa lelah dan cemas, namun Kate mengatakan ia sudah terbiasa dengan kebiasaan tidur seperti ini karena bisa lebih banyak waktu untuk membaca buku. Apakah semua orang harus meniru gaya hidup Kate? Saat ini muncul dua pendapat yang saling bertentangan. Satu pihak berpendapat bahwa mayoritas orang kekurangan tidur, sehingga kesehatan fisik dan mental terganggu, risiko hipertensi, penyakit arteri koroner, penyakit jantung, stroke, diabetes, dan obesitas meningkat drastis. Pihak lain berpendapat bahwa hanya sedikit orang dewasa yang benar-benar membutuhkan tidur minimal 8 jam, dan kekhawatiran terhadap kurang tidur justru bisa memicu insomnia kronis. Yang menenangkan adalah hasil survei awal tahun lalu menunjukkan bahwa orang sebenarnya tidak membutuhkan tidur sebanyak yang kita bayangkan, dan tidur berlebihan justru berbahaya bagi kesehatan—malah menjadi penyebab utama insomnia. Peneliti dari University of California, San Diego dan American Cancer Society selama 6 tahun terakhir melakukan survei terhadap kebiasaan tidur lebih dari 1 juta orang Amerika. Mereka menemukan bahwa orang yang biasanya tidur 6–7 jam per malam (yang merupakan kebiasaan mayoritas orang) lebih panjang umurnya dibandingkan orang yang tidur minimal 8 jam per malam. Studi menunjukkan bahwa orang yang tidur paling lama memiliki risiko kematian hingga 15% lebih tinggi dibandingkan orang lain, bahkan orang yang tidur hanya 5 jam per malam juga lebih panjang umurnya dibandingkan orang yang tidur 8 jam sesuai standar kesehatan normal. Selain itu, meskipun umumnya dikira perempuan lebih suka tidur, hasil survei justru menunjukkan bahwa perempuan yang tidur sama sedikitnya lebih panjang umurnya dibanding laki-laki. Secara umum, baik laki-laki maupun perempuan, satu kesimpulan tetap berlaku: semakin lama durasi tidur, semakin tinggi risiko kematian. Penggunaan obat untuk memperpanjang durasi tidur sangat berbahaya. Orang yang mengklaim menderita insomnia umumnya memiliki usia panjang sebanding dengan orang sehat, namun orang yang sering mengonsumsi obat tidur memiliki risiko kematian lebih awal hingga 25%, artinya penggunaan obat tidur untuk memperpanjang tidur tidak memberi manfaat bagi kesehatan tubuh. Tentu saja, tidur yang benar-benar kurang memang dapat memengaruhi sistem imun tubuh. Insiden kecelakaan industri seperti kebocoran nuklir dan kebocoran minyak akibat kelelahan operator telah menjadi peringatan bagi kita. Namun semakin banyak ahli yang meneliti masalah tidur berpendapat bahwa terlalu fokus pada kurang tidur justru merupakan pedang bermata dua, membawa manfaat dan risiko bersama. Meskipun Anda merasa membutuhkan tidur lebih lama, pendapat terbaru untuk meningkatkan kualitas tidur adalah sebisa mungkin mengusir rasa kantuk dan tetap terjaga. Pendapat ini tampak terlalu keterlaluan, tetapi jika Anda berhenti memaksakan diri untuk tertidur dan berusaha tetap terjaga, serta tidak lagi khawatir tentang kurang tidur sepanjang hari, Anda akan sadar bahwa sistem tidur yang dikendalikan otak benar-benar mampu menyesuaikan diri dengan kondisi tidur Anda.
|