Makanan rendah alergi sejak dini dapat mencegah alergi Dalam negara maju, tingkat kejadian penyakit alergi pada anak-anak sekitar 30% hingga 40%. Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan angka kejadian penyakit alergi berhubungan dengan gaya hidup di negara-negara maju. Saluran pencernaan manusia merupakan organ imun terbesar dalam tubuh, seseorang yang berusia 70 tahun akan mencerna dan memanfaatkan protein sebanyak sekitar 5 ton seumur hidup. Susu mentah dan susu formula biasa mengandung lebih dari 32 jenis protein dengan daya antigenik tinggi. Dalam kondisi normal, sistem imun memiliki toleransi terhadap protein makanan ini, namun sistem imun bayi baru lahir masih belum berkembang sempurna, sehingga paparan protein makanan dalam jumlah tinggi dari susu formula biasa dapat meningkatkan risiko alergi protein susu, terutama pada bayi dengan faktor risiko alergi tinggi. Saat ini diperkirakan tingkat kejadian alergi makanan pada anak-anak sekitar 5% hingga 20%, dengan alergi protein susu menjadi penyebab utama pada bayi dan balita. Pada anak-anak dengan faktor risiko alergi tinggi yang menggunakan susu formula biasa saat masa bayi, sekitar 20% kemudian berkembang menjadi penderita alergi protein susu. Sama halnya, sekitar 50% anak dengan dermatitis atopik nantinya akan berkembang menjadi gangguan pernapasan atau alergi pada masa kanak-kanak yang berlangsung seumur hidup. Faktor genetik juga berperan penting dalam perkembangan penyakit alergi; pada anak-anak dengan dua anggota keluarga positif alergi, tingkat kejadian alergi bisa mencapai 60% hingga 80%. Karena alergi makanan, khususnya alergi protein susu, berperan penting dalam mekanisme terjadinya penyakit alergi pada masa kanak-kanak, maka sangat penting untuk menghindari sensitivitas protein makanan dalam beberapa bulan pertama setelah lahir. Pemberian ASI eksklusif selama 4–6 bulan pertama kehidupan, serta menunda waktu mulai pemberian makanan pendamping, dapat secara efektif menurunkan tingkat kejadian penyakit alergi (terutama dermatitis atopik dan gejala gastrointestinal yang berhubungan dengan protein susu).
|