Dengan perkembangan pesat peradaban material manusia dan meningkatnya persaingan ekonomi, pandangan remaja terhadap peradaban material juga mengalami perubahan besar. Beberapa remaja cenderung menyamakan kekayaan dan ketenaran dengan kebahagiaan. Namun, penelitian bertahun-tahun oleh psikolog menunjukkan bahwa remaja yang mengidolakan uang dan ketenaran memiliki risiko depresi 20% lebih tinggi dibandingkan remaja yang tidak terlalu memperhatikan hal-hal tersebut. Peneliti menemukan bahwa banyak remaja berpikir bahwa kebahagiaan berarti memiliki banyak uang dan bisa unggul di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, mereka berusaha keras untuk mencapai kondisi tersebut. Namun dalam kehidupan nyata, hanya sedikit orang yang berhasil mencapai posisi puncak dalam hal kekayaan dan status sosial. Ketika pola ideal kebahagiaan ini tidak tercapai, banyak remaja kemudian menyalahkan dirinya sendiri atas kegagalan tersebut, berubah dari suasana hati yang ceria menjadi hancur total. Jika tidak segera ditangani, kondisi psikologis seperti ini secara bertahap dapat berkembang menjadi tahap awal depresi. Gejala klinis meliputi: tidak nafsu makan, sering sulit tidur, gelisah, suka merenung sendirian, serta mulai meragukan hal-hal di sekitar, teman-teman, atau hal-hal yang dulu disukai. Para psikolog percaya bahwa tingkat keberhasilan atau kebahagiaan seseorang sangat dipengaruhi oleh standar penilaian yang digunakan. Hasil survei menunjukkan bahwa remaja yang tidak menganggap kekayaan dan kekuasaan sebagai kebahagiaan, meskipun tidak kaya atau tidak berstatus tinggi, tetap tidak merasa sebagai pecundang. Sebaliknya, karena tujuan yang mereka tetapkan sesuai dengan realitas diri mereka, mereka justru cenderung merasa sukses. Kondisi depresi pada remaja sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis mereka. Secara umum, orang dengan pikiran yang luas lebih kecil kemungkinannya menderita depresi. Oleh karena itu, memperbaiki dan menyesuaikan sikap mental secara tepat membantu seseorang melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda, sehingga menghindari terjebak dalam pikiran sempit. Selain itu, remaja sebaiknya tidak menetapkan target yang tidak realistis sebagai tujuan hidup. Dengan begitu, mereka bisa terhindar dari rasa cemas akibat gagal mencapai target yang telah ditentukan. Karena kesuksesan adalah milik minoritas, dan mereka memiliki alasan serta kondisi khusus untuk sukses; jika seseorang membandingkan dirinya dengan tokoh sukses secara langsung, mungkin akan merasa tidak ada perbedaan signifikan, lalu menyimpulkan bahwa dirinya juga bisa sukses. Padahal, perbandingan semacam ini justru merupakan jebakan berbahaya. Penelitian psikolog menunjukkan bahwa dalam proses mengejar kemajuan dan gaya hidup yang baik, remaja harus menilai kemampuan diri sendiri secara realistis. Terutama, jangan mudah menjadikan pencapaian tokoh sukses sebagai tujuan masa depan, dan jangan terus-menerus membandingkan diri dengan rekan-rekan remaja yang sudah berhasil. Setiap perkembangan individu bergantung pada kondisi spesifik masing-masing. Orang yang Anda kagumi mungkin tidak berkembang sebaik Anda, atau bahkan selamanya tidak bisa Anda kejar. Baik tentang kesuksesan maupun gaya hidup yang mapan, sebaiknya dilihat secara tenang. Saat masyarakat mengagungkan kesuksesan, lebih banyak merupakan pengakuan makro dan apresiasi terhadap semangat kerja keras, bukan berarti semua orang bisa menjadi miliarder.
|