Mengoreksi kebiasaan makan tidak seimbang melalui pengaruh psikologis Kebiasaan makan tidak seimbang merujuk pada anak yang tidak suka makan jenis makanan tertentu atau beberapa jenis makanan, merupakan kebiasaan makan buruk. Kebiasaan makan tidak seimbang sangat umum terjadi pada anak-anak, terutama di kalangan anak kota, mencapai sekitar 25%. Jika anak memiliki kebiasaan makan tidak seimbang, orang tua bisa mencari akar masalah dari sisi psikologis. Pertama, apakah orang tua memberi pengaruh psikologis negatif pada anak. Banyak anak yang makan tidak seimbang karena terpengaruh oleh orang tua. Misalnya, orang tua berkata di depan anak: "Saya tidak suka makan daun bawang." Lalu anak pun ikut tidak suka makan daun bawang. Atau orang tua tidak suka makan bebek, sehingga di rumah jarang membeli bebek, dan secara verbal maupun ekspresi wajah menunjukkan ketidaksukaan terhadap bebek, semua ini akan membuat anak enggan makan makanan tersebut. Kedua, apakah anak sering mengalami asosiasi negatif. Anak-anak sering menghubungkan suatu hal atau kejadian dengan makanan tertentu, sehingga menolak makan makanan tersebut. Contohnya, ada anak yang tidak mau makan sayuran karena pernah melihat gambar pupa yang dibuang ke atas sawi. Terakhir, orang tua mungkin secara tidak sadar memperkuat kebiasaan makan tidak seimbang anak. Seiring berkembangnya indra perasa, anak bisa menunjukkan preferensi terhadap makanan tertentu. Beberapa orang tua demi membuat anak makan lebih banyak, meskipun tahu makan tidak seimbang buruk, tetap menuruti keinginan anak. Banyak orang tua sebelum belanja sayur, biasanya bertanya dulu: "Anak suka makan sayur apa?" Jika anak suka, langsung dibeli. Padahal, dengan begitu, secara tidak langsung memperkuat kecenderungan makan tidak seimbang anak. Dengan menangani masalah dari sisi pengaruh psikologis, bisa jadi menghasilkan hasil yang tak terduga. Contoh yang baik: Sekitar 90% anak yang makan tidak seimbang memiliki orang tua yang juga makan tidak seimbang. Oleh karena itu, untuk mengatasi kebiasaan makan tidak seimbang anak, orang tua harus mulai dari diri sendiri. Jika orang tua memang makan tidak seimbang, harus segera memperbaikinya, agar anak bisa mendapatkan nutrisi seimbang dan tumbuh sehat. Memulai dengan mencicipi sendiri: Untuk makanan yang anak tidak suka, orang tua harus mencicipinya terlebih dahulu, dan tunjukkan ekspresi senang saat makan, untuk mengarahkan anak agar mau makan. Menghilangkan rasa takut: Beberapa anak memiliki ketakutan terhadap makanan tertentu, misalnya takut makan ikan karena takut terkena tulang ikan. Maka orang tua harus memberi ikan tanpa tulang. Setelah menumbuhkan minat anak untuk makan, orang tua juga harus mengubah variasi cara memasak. Misalnya, jika anak bosan makan telur rebus, orang tua bisa mengolahnya menjadi telur dadar, telur ceplok, sup telur, terus berubah-ubah metode memasak, agar anak kembali tertarik. Jika anak bosan makan daging panggang, orang tua bisa mengolahnya menjadi isian, lalu dibuat menjadi wonton, pangsit, atau baozi. Saat anak makan dengan senang, orang tua bisa bilang: "Ini dibuat dari daging."
|