Garam dengan zat besi untuk mencegah anemia Berdasarkan data terkini, dunia saat ini memiliki sekitar 200 juta penderita anemia defisiensi besi, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak di negara berkembang, serta sekitar 1 miliar orang mengalami defisiensi besi ringan. Hemoglobin mengandung zat besi, yang sangat penting untuk pengikatan oksigen dalam darah. Saat defisiensi zat besi, tubuh tidak bisa memproduksi hemoglobin secara normal, sehingga kemampuan darah membawa oksigen menurun, menyebabkan rasa lelah, pusing, mata berkunang-kunang, detak jantung cepat, bahkan pingsan atau syok. Menurut pengukuran, orang dewasa normal kehilangan sekitar 1 mg zat besi per hari. Wanita lebih rentan karena faktor fisiologis, keseimbangan zat besi lebih mudah terganggu saat menstruasi, hamil, melahirkan, dan lain-lain. Belakangan ini, banyak wanita muda yang ingin menurunkan berat badan secara drastis dengan cara diet yang salah, menjadi penyebab langsung meningkatnya kasus anemia defisiensi besi. Defisiensi zat besi adalah proses bertahap, sehingga hanya bisa dicegah melalui asupan makanan sehari-hari yang terus-menerus. Pengobatan defisiensi zat besi juga bisa dilakukan dengan suplemen zat besi, namun risiko kambuh setelah berhenti minum obat sangat tinggi. Untuk mengatasi masalah defisiensi zat besi, negara-negara Barat telah menerapkan program fortifikasi zat besi sejak lama, mewajibkan penambahan zat besi pada makanan pokok harian dengan standar tertentu. Misalnya, Amerika Serikat mulai tahun 1941 menetapkan penambahan 3,5 mg zat besi per 100 gram tepung, Swedia mulai tahun 1944 menerapkan 3 mg per 100 gram tepung, dan setelah tahun 1970 meningkatkan menjadi 6,5 mg. Hasilnya, prevalensi defisiensi zat besi di seluruh populasi turun drastis, dan angka anemia defisiensi pada wanita usia reproduksi turun dari 25%-30% menjadi di bawah 5%. Pencarian solusi sederhana dan efektif untuk memperbaiki asupan zat besi menjadi topik utama yang dikaji oleh para ahli gizi dan dokter. Baru-baru ini, lembaga penelitian Kanada berhasil mencapai terobosan besar dalam penelitian ini, mengembangkan teknologi baru yang memungkinkan penambahan zat besi dan yodium secara bersamaan ke dalam garam, memberikan cara yang sangat praktis bagi masyarakat untuk mendapatkan kedua zat tersebut melalui garam. Ilmuwan sudah lama bermimpi seperti halnya penambahan yodium ke garam untuk mencegah defisiensi yodium, dengan menambahkan zat besi ke garam untuk mencegah anemia defisiensi. Namun karena garam sudah mengandung yodium, tantangan utama adalah bagaimana membuat zat besi dan yodium "hidup berdampingan" tanpa konflik, agar keduanya optimal. Dalam eksperimen sebelumnya, penambahan keduanya menyebabkan reaksi kimia, menyebabkan ketidakstabilan kandungan dan bentuk zat, serta membuat garam berubah warna dan rasa. Setelah penelitian intensif, ilmuwan akhirnya menemukan solusi: membungkus yodium dalam lapisan maltodekstrin (polimer dari glukosa), sehingga tidak langsung bersentuhan dengan zat besi, mengatasi masalah tersebut tanpa menambah biaya produksi garam. Uji coba menunjukkan bahwa garam yang diproses dengan teknologi ini memiliki masa simpan panjang dalam kondisi kering, serta penyerapan zat besi dan yodium dalam tubuh sangat baik.
|