Dalam pandangan banyak orang, hanya orang dewasa yang menderita depresi. Padahal, anak-anak juga bisa mengalami depresi, dan sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa karena perubahan lingkungan sosial, jumlah anak yang menderita depresi kini meningkat secara signifikan. Para peneliti menyatakan bahwa perubahan besar pada lingkungan anak dapat memberikan tekanan psikologis yang besar, jika tidak segera melakukan penyesuaian psikologis, anak-anak ini akan mengalami gejala awal depresi karena dampak negatif yang semakin mendalam. Misalnya, pada anak yang tinggal bersama ibu setelah kedua orang tua bercerai, mereka sering merindukan ayah yang sudah tidak lagi bersama. Ketidakseimbangan dalam keluarga ini bisa membuat anak menjadi pendiam, enggan bermain dengan teman sebayanya, sulit berkonsentrasi saat belajar. Anak-anak seperti ini biasanya tidak nafsu makan dan selalu tidak puas dengan dirinya sendiri. Studi statistik menunjukkan bahwa seiring dengan perubahan lingkungan sosial dan budaya dominan, depresi yang dulu dianggap penyakit orang dewasa kini secara diam-diam masuk ke kehidupan anak-anak, proporsi anak yang menderita depresi naik dari sekitar 3% menjadi sekitar 8% saat ini. Karena banyak orang tua tidak menyadari bahwa anak-anak juga bisa menderita depresi, baru ketika kondisi anak mencapai titik yang tidak bisa ditoleransi oleh orang tua pun baru membawa anak ke dokter, sehingga waktu pengobatan optimal terlewat. Dalam pengobatan depresi, semakin cepat ditemukan, semakin cepat pemulihan terjadi. Bagi anak penderita depresi yang sudah mencapai pikiran ingin kabur dari rumah atau bunuh diri, membantu mereka keluar dari bayang-bayang ini membutuhkan waktu yang sangat lama, dan risiko kambuh cukup tinggi. Para peneliti menyatakan pentingnya meningkatkan kesadaran orang tua tentang depresi pada anak, karena orang tua umumnya cenderung menyalahkan gejala depresi anak pada kejadian konkret sehari-hari, sering berkata "akan baik dalam waktu singkat". Orang tua harus belajar mengenali gejala depresi pada anak, seperti anak tiba-tiba mengalami buang air kecil di tempat tidur, sulit tidur, bangun tengah malam berjalan-jalan di rumah, sering mengeluh sakit perut atau sakit kepala, atau sering mengatakan ingin kabur dari rumah. Anak-anak yang lebih besar juga bisa melakukan perilaku berisiko. Selain itu, penderita depresi anak memiliki beberapa gejala yang sama dengan penderita depresi dewasa, seperti suasana hati yang terus rendah, mudah marah, lemas, tidak tertarik pada hal-hal di sekitarnya, cenderung berpikir negatif, nafsu makan dan tidur buruk, sulit berkonsentrasi. Jika anak mengalami lima gejala di atas selama dua minggu berturut-turut, orang tua sebaiknya segera membawa anak ke rumah sakit terkait. Para peneliti juga menyatakan bahwa ketika lingkungan anak mengalami perubahan besar, seperti cedera fisik, kematian orang tua, atau perceraian orang tua, orang tua harus sangat waspada terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan pada anak, serta membimbing anak untuk melihat perubahan tersebut dari sisi positif. Jika ditemukan anak tetap dalam kondisi emosional rendah dan gelisah, segera bawa ke dokter.
|