Dalam beberapa tahun terakhir, laporan tentang toksisitas obat herbal di luar negeri terus meningkat. Selain laporan tentang kerusakan fungsi ginjal akibat obat herbal seperti Fangji, Guanmutong, dan Aristolochia, para ilmuwan di luar negeri juga melakukan investigasi tentang potensi reaksi buruk antara obat herbal umum (termasuk obat herbal Tiongkok) dan obat sintetik. Hasilnya menunjukkan bahwa obat sintetik dan herbal memang dapat mengalami interaksi obat, yang dapat meningkatkan atau menurunkan efek atau toksisitas salah satu obat. Peralatan Obat Rumah Tangga yang Layak (Gambar) Berikut adalah beberapa reaksi buruk yang mungkin terjadi antara herbal dan obat Barat berdasarkan pencarian doktor medis dari Universitas Washington (1994–1999) dari database literatur medis terkemuka: ▲ Gingko biloba, bawang putih, danggui, dan danshen digunakan bersama warfarin (obat antikoagulan) dapat meningkatkan kecenderungan perdarahan. ▲ Gingko biloba digunakan bersama paracetamol dan ergotamine dapat menyebabkan hematoma subdural bilateral (ada laporan bahwa gingko sendiri dapat menyebabkan kondisi ini). ▲ Gingko biloba digunakan bersama diuretik tiazid dapat menyebabkan hipertensi. ▲ Gingko biloba digunakan bersama aspirin dapat menyebabkan perdarahan di ruang anterior mata, karena ginkgolide adalah inhibitor kuat PAF. ▲ Hypericum perforatum digunakan bersama inhibitor reuptake serotonin (seperti triazolam, sertraline, nefazodone) dapat menyebabkan sindrom serotonin ringan. ▲ Hypericum perforatum digunakan bersama theophylline, ciclosporin, digitoxin, dan phenprocoumon dapat menurunkan bioavailabilitasnya. ▲ Hypericum perforatum digunakan bersama paroxetine (antidepresan) dapat menyebabkan kantuk dan bicara tidak teratur. ▲ Hypericum perforatum digunakan bersama kontrasepsi oral (seperti ethinylestradiol, desogestrel) dapat menyebabkan perdarahan pada organ reproduksi. ▲ Hypericum perforatum digunakan bersama inhibitor protease HIV indinavir dapat menyebabkan penurunan drastis konsentrasi indinavir, tidak hanya kehilangan efek terapi tetapi juga menyebabkan HIV menjadi resisten. ▲ Ginseng digunakan bersama antidepresan (seperti phenelzine) dapat menyebabkan sakit kepala, tremor, dan agitasi. ▲ Areca digunakan bersama obat antipsikotik (seperti flupentixol, cyclizine, fluphenazine) dapat memperparah gejala ekstrapiramidal. ▲ Areca digunakan bersama prednisolon atau salbutamol dapat menyebabkan asma tidak terkendali, karena areca alkaloid menyebabkan kontraksi bronkus secara dosis-terkait. ▲ Cassia acutifolia dan frangula (herbal yang mengandung anthraquinon) dan Plantago ovata (herbal yang mengandung serat larut) dapat mengurangi penyerapan obat sintetik tertentu seperti metformin, glibenclamide, dan benzylpenicillin. Pengetahuan Obat: Apa Arti Kapsul Pelepas Bertahap? Bagaimana Membaca Brosur Obat Dr. Adrain berpendapat bahwa interaksi buruk antara herbal dan obat sintetik jauh lebih banyak dari yang disebutkan di atas, dan dengan semakin banyak perhatian dan penelitian, akan ditemukan lebih banyak lagi. Dr. Adrain menekankan bahwa dokter klinis harus mengetahui penggunaan herbal oleh pasien, dan harus memberi tahu pasien tentang fakta yang terbukti secara ilmiah. Misalnya, pasien dengan gangguan koagulasi, pasien yang menunggu operasi, atau pasien yang menjalani terapi antikoagulan sebaiknya tidak menggunakan gingko, danshen, danggui, papaya, atau bawang putih, karena herbal-herbal ini dapat membuat obat antikoagulan tidak efektif, sehingga menyebabkan perdarahan.
|