Pada zaman dahulu, para dokter selalu membawa labu saat bepergian. Labu sebagai simbol profesi dokter memiliki asal-usul yang menarik! Pada masa Dinasti Han Barat, ada seorang bernama Fei Changfang yang melihat seorang tua menjual obat di pasar. Setiap pasien yang minum obatnya langsung sembuh, obatnya efektif. Melihat hal itu, Fei Changfang ingin belajar dari sang tua. Setelah orang-orang bubar, ia mengikuti sang tua dan melihat sang tua melompat masuk ke dalam labu yang digantung di dinding sebuah kedai. Ia berpikir bahwa sang tua pastilah bukan orang biasa, sehingga semakin tekun ingin belajar. Ia pun menyediakan meja mewah lengkap dengan makanan dan anggur di tempat labu itu digantung, menunggu sang tua keluar. Tak lama kemudian, sang tua melompat keluar dari labu. Fei Changfang segera bersujud dan memohon menjadi murid. Sang tua, melihat kesungguhan Fei Changfang, menerima dia sebagai murid dan mengajarkan ilmu kedokterannya. Akhirnya, Fei Changfang menjadi dokter terkenal pada zamannya. Untuk mengenang sang guru, ia selalu membawa labu saat berobat. Sejak saat itu, dokter-dokter menggunakan labu sebagai simbol, menandakan keahlian mereka, dan masyarakat pun mengenal labu sebagai lambang dokter. Sebenarnya, labu sendiri merupakan salah satu ramuan obat tradisional Tiongkok. Rasanya manis dan lembut, bersifat netral, memiliki fungsi menghilangkan retensi cairan dan melancarkan buang air kecil. Digunakan untuk mengobati edema, gangguan buang air kecil, kuning, dan perut kembung. Dosis harian 15–30 gram, direbus dan diminum, atau dikombinasikan dalam formula kompleks. Biji labu juga dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan radang gusi; campurkan dengan akar cowell dan gunakan untuk berkumur, hasilnya akan terasa segera.
|